Langsung ke konten utama

Aku Ini VOC

Aku ini VOC.

Jepang. Inggris. Spanyol Belanda. Portugis

Apapun yang sifatnya eksploitatif dan hanya mencari keuntungan.

Kelihatannya entri ini akan menjadi sesuatu yang berat dan serius? Seperti lembaran LPJ dan syllabus advokastra, juga warisan buku putih (atau hitam?) pengkaderan. Tapi, entahlah
dunia masih kacau
orang-orang masih brengsek 
kapitalis masih berjaya 
dan, aku yang masih saja sibuk dengan cinta sepihak lalu curhat di blog yang only god knows and listening. 
tidak ada yang baik-baik saja, jadi ayo kita bernafas dulu.

*

Aku ini manusia. Aku ini dilahirkan dengan intrik dan ego, aku dilahirkan dengan nafsu dan tangisan, aku dilahirkan dengan apapun yang menjadikanku... manusia.
Lalu, kemarin aku sadar. Aku ternyata VOC. Aku ini tidak jauh beda dari penjajah yang selalu kupelajari selama 12 tahun masa sekolah. Lucu tidak? Aku belajar tentang orang-orang yang mengusir penjajah tanpa sadar aku ini juga penjajah. Hidup memang penuh hal-hal yang lucu dan menggelikan. Terkadang, hidup memang hanya perlu untuk ditertawakan.

Kurang lebih satu tahun yang lalu, handphoneku telah pergi meninggalkan pemiliknya yang tentu saja adalah  aku atau dengan kata lain handphoneku hilang. Kalimat barusan adalah contoh bagaimana menulis essay dengan minimal kata 1500 dengan efisien dan pakai otak, kalau misalnya tombol ctr di keyboardmu tiba-tiba rusak. terimah kasih kembali. skip. Bagaimana kronologinya adalah hal yang lain, sebagian besar adalah hasil kolaborasi kebodohan dan kepolosan pemiliknya. Bisa dirangkum dalam 5 kata. 

Ketinggalan - di - Kudapan - Lalu - Lenyap. 

Ayahku adalah orang yang baik hati tapi kadang-kadang dia polos dan galak. Dia itu bisa diibaratkan dengan Indonesia. Posisinya strategis di keluargaku, sama dengan posisi Indonesia yang strategis terletak diantara dua samudera bla bla bla dengan garis lintang laskar pelangi dan bujur timur bla bla bla. Karena tuntutan menjadi mahasiswi di salah satu kampus (baca: pabrik) maka dia pinjamkanlah handphone yang masih mulus dan tidak ada lecet. Bukan karena baru dibeli, semua barang dan makhluk hidup yang dipelihara dengan ayah selalu terasa seperti baru. Kayak aku. Serasa baru dilahirkan kemarin, he he. 

Alhasil handphone yang entah dari zaman kapan ini pindah pemilik dengan berbagai macam kesepakatan. Aku hanya bisa memakai handphone ayah sampai uang tabunganku cukup untuk memberi handphone yang baru (dan tentu saja masih akan ditambahi dengan uang orang tua). Sama seperti VOC yang pertama kali datang ke Indonesia hanya untuk berdagang dan bongkar muatan lalu akhirnya akan pergi ke daratan lain. Cih, licik. 

Waktu memang satu-satunya yang bisa disalahkan kalau menyangkut tentang 'kenyamanan'. Seperti, Ayu dan Bagas yang selalu ketemu, akhirnya menjadi teman, lalu saling curhat-curhatan, jadi sahabat daaan there you go

"aku nyaman sama kamu.."

sama seperti aku dan VOC. Aku yang sudah terlanjur nyaman memakai handphone ayah yang walaupun lalodnya minta ampun, kameranya sudah bersemut dan tidak bisa buka snapgram :( tapi tetap saja aku sudah terlanjur nyaman. Padahal, jika niat aku bisa saja menabung dan membeli handphone baru dengan fitur yang lebih oke dan pastinya tidak menguji kesabaran kalau penyakit 'heng' kambuh. Yah, kalau namanya nyaman sih ya. Mau itu ketinggalan zaman, fisiknya bagaimana, materinya bagaimana, sama kayak cinta. Bisa buat manusia buta, tuli sampai bisu sekaligus! manusiawi kan? Sama kayak VOC yang 'terlanjur nyaman' sama Indonesia. Karena Indonesia itu orangnya lucu-lucu dan ramah jadi bisa dijadikan tentara gratis, rempah-rempahnya banyak bikin kaya, sumber daya alamnya banyak, yakali mana mungkin tidak nyaman?

Aku ini memang mirip VOC kalau dipikir-pikir.

Bukan mirip kongsi dagang, pehul. Tapi, yah.. sedih saja pola pikir dan tingkah laku tidak jauh beda walau beda zaman. Apa VOC juga mengalami dilema seperti ini ya? Jadi bingung sendiri. 

Akhir-akhir ini ayah sudah melakukan perlawanan terhadapku. Sering pinjam hp walaupun hanya buka youtube dan searching 'kicauan burung bla bla' atau melihat orang menyantap makanan aka mukbang orang Indonesia. Ayah juga makin sering main hpnya untuk buka whatsapp walaupun hanya untuk mengirim video-video receh khas bapak-bapak ke teman-temannya yang dibalas dengan emoticon dan komentar receh juga. Aku menganggapnya itu perlawanan, sama seperti yang Indonesia lakukan ke VOC. 

Jangan sampai ayah punya semacam rencana kudeta untuk merebut handphonenya kembali ya? Ah, aku juga harus mulai menyusun sesuatu.

Meskipun jayus, tapi suatu hari ayah pasti bisa merebut handphonenya kembali. Dan tentu saja aku akan mendapatkan handphone yang lebih baru dan canggih. Sama seperti Indonesia yang telah merdeka walau tetap saja, 

masih belum baik-baik saja. 

Makassar, 17 - 04 - 2018
19.33 WITA
Aku ingin berhenti jadi VOC  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gemas

Padahal, Aku ingin terlihat menggemaskan. Pakai baju merah atau yang putih? Haruskah aku memakai bando yang ini?  Syal ini terlihat oke? Tidak? Mesti kuganti? Apa rambutku baik-baik saja? Ah, sial. Jerawatku tumbuh lagi. Bagaimana ini? Cuci muka dengan air beras? Tidak usah? Baiklah. Hari ini aku merasa sangat pendek.  Hei, kemarin-kemarin aku merasa tinggi kau tahu? Jangan mengejekku!  Diet mungkin membuatku kurus dan lebih pendek. Ah tidak apa-apa. Pendek itu menggemaskan. Oh, tunggu. Apa ini? Sepatuku belum kering?! Tidak... tidak.. aku harus memakai sepatu yang itu. Tidak boleh yang lain. Tapi, bu...  Sepatunya cocok dengan ba-- Iya, baiklah. Aku akan memakainya. Tapi tetap tidak ikhlas. Persetan dengan langit mendung!  Ugh. Sudah jam berapa ini? Aku harus segera bersiap-siap.  Adinda, cepat mandinya. Aku harus terlihat lucu hari ini.  Demi Tuhan, Aku hanya ingin 'sedikit' lebih menggemaskan untuk ha...

Telepon dari Ayah

Pendeknya: akhir-akhir ini Ayah suka sekali meneleponku. Ayah menelepon ke rumah adalah hal yang lumrah, tentu saja. Ia menelepon Ibu, lalu Nunu yang sedang di Malang dan kadang-kadang juga Dela. Aku? Tidak pernah. Aku sebenarnya menolak memberikan Ayah nomor teleponku. Bukan apa-apa, aku juga tidak sedang sibuk apapun, dan untuk Ayah, aku memang selalu punya waktu. Hanya, apa ya? I hate the feeling. Setelah mendengar suaranya, aku tidak suka perasaan yang ditinggalkan. Khawatir, sedih,.. Kangen. Ah, yang paling penting: aku khawatir aku akan menangis. Yaa yaa ya, bilang saja aku orang paling jaim seluruh dunia. Kalau kata anak indie:  semesta sedang menertawakan bagaimana aku berlakon dengan gengsiku.   "..but? Its okay to cry, babe."  another blah blah blah. Tidak, sayang, tidak. Aku, iya memang jaim. tapi, bagaimana ya? Lebih daripada itu, aku tidak boleh menambah beban ayah dengan mendengarku menangis. Tidak boleh. Tidak bisa. Ayahku, se-overthinking itu....

Emily Stucturte

Saya besar secara harfiah, di seluruh dunia.  Saya pernah,(juga) menjadi salah satu yang dibuai oleh dunia. Ayah dan Ibu menduduki posisi penting di salah satu perusahaan menggurita katanya, jadi seharusnya masuk akal sering berpindah-pindah tempat tinggal. Saya, jujur menikmati itu. Negara-negara yang masih menjadi impian sebagian besar remaja seumuran saya, sudah bosan kujajaki. Saya besar di seluruh dunia, sudah kuberi tahu. Tapi untuk dimana saya benar-benar berasal, saya kurang tahu. Ayah blasteran sama seperti saya. Inggris dan Italia, tapi ada keturunan Skotlandia dari nenek yang juga blasteran. Iya, saya tahu keluarga saya sangat bhinneka tunggal ika bukan? hehe. Ibu saya sendiri orang Indonesia asli. Kalau belum tahu Indonesia tapi ternyata pernah ke Bali,berarti kalian mainstream. Haha kidding, jangan tersinggung. Apalagi kalau kalian orang Sulawesi seperti Ibuku, kumohon.. jangan tersinggung:) Langit bandung yang kelabu sisa hujan tadi pagi. Masih 3 jam lagi pak...

Kira

Aku kira. Bukan, namaku bukan Kira tentu saja. Kira, kau tahu kan? Kata yang menggambarkan pertentangan antara " what do you expect " dan " what actually happening" . Seperti apa yang kau anggap terjadi, ternyata tidak. Ternyata bukan, Ternyata hanya dikepalamu saja. Ternyata bukan itu yang menjadi realita. Harapan yang terlalu dekat dengan kenyataan, namun tidak tergapai. Tidak sampai. Tidak ke-sampai-an. Akhirnya kamu cuma bisa tersenyum, dan berkata lirih: Aku kira itu...  Aku kira, aku bukan lagi remaja perempuan kemarin. Aku kira, aku telah menjadi seorang perempuan yang Dewasa karena patah. Kuat karena jatuh. Aku kira, mengalami pengalaman jauh membuatku menjadi lebih tangguh. Hari-hari kemarin yang berat. Orang-orang yang pergi dengan bekas. Sakit, setiap denyut, setiap goresan, i feel it all.  Aku sudah merasakan semuanya, dan yang aku tahu,aku sudah siap dengan petualangan baru. Percaya diri sekali, merasa sudah berproses dan menikmati proses. Be...

Yah

Ayah yang paling ganteng. Karena memang ganteng. Gagah. Iyalah. Keturunan arab, marga Alaydrus. tapi tidak sering dipake karena namanya sudah panjang. Cukup jadi nama facebook saja, ya yah? Ini bukan apa-apa. Bukan juga karena ulang tahunnya ayah yang memang sangat ambigu dan penuh misteri. Putrimu ini hanya mau bersikap manis saja. Akhir-akhir ini, i think about ayah alot. Ibu juga. Bukan karena anakmu ini sudah dewasa dan bijaksana. Hanya saja.., i dont know. Kangen. The more i drown into college life, semakin sering i think about ayah dan ibu juga rumah. Tapi untuk kali ini, fokusnya ayah saja ya bu. Soalnya, surat cinta anak-anakmu untuk ibu sudah banyak sekali dan tidak pernah sekalipun menulis buat ayah. Hehehe. Pak Aldrin. Terimah kasih karena sudah terlalu kuat untuk menggendong little Ainil yang meskipun lagi lucu-lucunya, tapi juga sangat gembul dan subur. Iya, ayah memang sering mengeluh terselubung kalau lagi flashback. "Ini anak, disuruh cuci piring lamanya m...

Bintang (Jatuh)

uh, uhm, ha..i? Dia sudah melarangku sih, katanya jangan pernah ngomong "hai, hello, hey" lagi. Tapi apa memang seburuk itu? Maksudku, sapaanku terdengar baik baik saja. Setidaknya untukku. Kau merasa tidak aneh kan? kan? Jangan bilang, kau seperti dia. Oke,oke aku akui memang kikuk, tapi aku juga ingin menyapa orang lain. Memangnya tidak boleh? "Boleh sih, terserah kamu. Tapi, kalo orang lain itu aku, kau hanya perlu untuk bernafas saja. Kau hidup? Maka aku akan selalu datang" Siapa namamu? Apa dia masih mempermainkan namamu di minggu ke 4 kalian bertemu? Kalo tidak, selamat ya. Kamu memang spesial banget deh! Aku senang, dia bertemu orang yang spesial. Karena dia yang luar biasa toh tidak akan pernah cocok dengan yang biasa biasa saja. Harus yang spesial dong, hehe. Ohiya, dia kamu kasih apa sih? Aku penasaran. Soalnya, terakhir aku ketemu dia masih mempermainkan namaku. Terakhir kulihat, namaku di hapenya masih Penjual-Kesing-Hape. Malah tuli...

[RESUME] ILMU PENGANTAR HI

Hi. bukan. bukan hai. HI atau hubungan internasional ternyata tidak se-sederhana singkatannya. siapa yang menyangka ternyata makna dari HI dan hi ternyata sangat berbeda? apalagi membedakan antara HI dengan huruf kapital, hi dengan huruf anak bawang (baca:kecil) dan hi seperti hai whassup? Segala hal dengan imbuhan internasional memang selalu rumit dan dinamis, sekaligus menyenangkan. Saya tahu, menyenangkan yang dimaksud disini adalah magnet tersendiri. Sesuatu yang menarik dan semakin menarik, mengajak untuk terus berenang dan menyelami alurnya. Berfikir kritis dana bergerak secepat globalisasi, disiplin ilmu ini unik akan inovasi. Defnisi HI maupun hi secara umum sebenarnya bisa sangat disederhanakan. Ada banyak pendapat mengenai hubungan internasional dari para ahli, namun sebenarnya semua memiliki 3 kesamaan yang sama. Yaitu, aktor, interaksi dan lintas negeri. Hubungan Internasional secara defenisi adalah apapun yang mengenai 3 pokok itu.  HI atau dapat dikataka...