Hi.
bukan. bukan hai.
HI atau hubungan internasional ternyata tidak se-sederhana singkatannya. siapa yang menyangka ternyata makna dari HI dan hi ternyata sangat berbeda? apalagi membedakan antara HI dengan huruf kapital, hi dengan huruf anak bawang (baca:kecil) dan hi seperti hai whassup? Segala hal dengan imbuhan internasional memang selalu rumit dan dinamis, sekaligus menyenangkan. Saya tahu, menyenangkan yang dimaksud disini adalah magnet tersendiri. Sesuatu yang menarik dan semakin menarik, mengajak untuk terus berenang dan menyelami alurnya. Berfikir kritis dana bergerak secepat globalisasi, disiplin ilmu ini unik akan inovasi.
Defnisi HI maupun hi secara umum sebenarnya bisa sangat disederhanakan. Ada banyak pendapat mengenai hubungan internasional dari para ahli, namun sebenarnya semua memiliki 3 kesamaan yang sama. Yaitu, aktor, interaksi dan lintas negeri. Hubungan Internasional secara defenisi adalah apapun yang mengenai 3 pokok itu.
HI atau dapat dikatakan hubungan internasional sebagai disiplin ilmu, berbeda dengan hi sebagai fenomena. Dari segi pembahasannya, maupun sejarahnya, hi sebagai fenomena lebih dahulu berkembang. Tepatnya pada abad ke 17, di Yunani masih terdapat banyak negara-negara polis (negara kota) yang tidak memiliki kedaulatan untuk menentukan batas batas wilayahnya. Lalu, meletuslah perang 30 tahun yang terjadi karena pertentangan protestan dan katolik pada tahun 1618-1648. Untuk mengakhiri perang ini, maka dibuat perjanjian Westphalia yang berisi kesepakatan damai antara negara-negara yang terlibat dalam perang ini. Selain itu, perjanjian Westphalia inilah yang menjadi titik awal diketahui bahwa untuk menjadi sebuah negara modern diperlukan kedaulatan dan batas-batas wilayah.
HI sebagai disiplin ilmu muncul pada perang dunia I yang terjadi antara kurun waktu 1914-1918. Pencetus ilmu HI ialah Woodrow Wilson presiden ke 28 Amerika Serikat. Woodrow Wilson berpendapat perlu disatukannya negara-negara untuk menciptakan kedamaian. Untuk itu, Woodrow mendirikan liga bangsa-bangsa pada tahun 1919, tapi baru terbentuk secara resmi pada tahun 1920. Liga bangsa-bangsa akhirnya hancur dan chaos akibat dari ego masing-masing negara adikuasa. Tidak lama Perang Dunia II meletus yang menjadi akibat nyata kegagalan LBB. ilmu Hubungan Internasional sebagai disiplin ilmu pun semakin berkembang.
Pada perang dingin, perkembangan ilmu HI sangat pesat. Aktor-aktor Hubungan Internasional tidak hanya terbatas negara saja, namun perusahaan multinasional, NGO, bahkan individu bisa menjadi aktor Hubungan Internasional. Disiplin ilmu ini pertama kali menjadi program studi kuliah di Universitas Wales, Inggris.
GRAND DEBATE
Secara umum jumlah pasti grand debate atau perdebatan besar dalam ilmu HI tidak dapat dirumuskan. Sebagai ilmu yang fluktuatif, setiap literatur yang membahas ilmu ini memiliki perspektif tersendiri dalam menghitung jumlah grand debate. Rata-rata literatur dan buku memasukkan 3 atau 4 perdebatan besar, namun tidak jarang juga lebih.
Grand debate yang pertama terjadi antara kaum aliran realisme dan liberalisme. Pada saat Liga Bangsa-Bangsa didirikan oleh Woodrow, Realisme menentangnya. Penganut aliran realisme seperti Thucydides, Machiovelly, Margentha dll. berpendapat bahwa tidak bisa negara dikungkung dan disatukan untuk menciptakan kedamaian, karena negara memiliki ego dan kepentingannya masing-masing. Penganut Liberalisme seperti John Lock dan Woodrow Wilson tetap kukuh bahwa perdamaian pasti bisa terjadi dan real adanya. Pada tahun 1930an sampai 1950an perang dunia II pecah dan menandai bahwa penganut realisme menang atas perdebatan grand debate ini.
Pada tahun 1960an, grand debate kedua terjadi antara behavior dan tradisionalis. Perdebatan besar ini mempertanyakan kenapa perang bisa terjadi. Behavior berpendapat baha ilmu HI bisa dilihat dari kacamata ilmiah, yang berarti objeknya bisa dihitung dari rumus dll. Secara garis besar ilmu ini berpendapat bahwa kita bisa merusmuskan perang. Lalu, tradisionalis berpendapat bahwa ilmu HI tidak bisa dirumuskan dan dihitung seperti itu. Apa yang disorot oleh ilmu ini adalah manusia dan tidak ada ukuran pasti akan manusia. Baik dan jahat, kemauan dan ego manusia tidak dapat diukur. Tidak ada pernyataan resmi bhwa siapa yang menang dalam perdebatan ini, namun pada perang antara Amerika Serikat dan Vietnam dimana dapat dirumuskan sebagai negara yang besar berkuasa dengan peralatan militer canggihnya akan menang lebih mudah dibanding negara dunia ketiga yaitu Vietnam, nyatanya kalah total. Secara tidak lansung hal ini membantah pendapat behavior namun tidak sekaligus menjadikan tradisionalis pemenangnya.
Grand debate ketiga antara neorealis dan neoliberals menentang neomarxis yang terjadi antara tahun 1970-1980an. Pasca perang dunia kedua, ekonomi kapitalis berkembang sangat pesat. Hal ini menarik perhatian kaum neomarxis yang melihat bahwa dengan sistem ekonomi kapitalis ini sangat menyusahkan negara-negara dunia ketiga yang baru saja merdeka dan membangun ekonominya. Penganut aliran neomarxis akhinya menentang sistem ekonomi kapitalis yang terkesan menyeret-nyeret dan mengeksploitasi negara yang baru merdeka. Neoliberal sebagai pencetus ekonomi kapitalis mengatakan bahwa justru sistem ekonomi ini bisa membantu perekonomian negara negara dunia ketiga karena uang negara-negara adikuasa dan adidaya juga dialirkan kepada negara-negara itu. Neorealis sendiri berpendapat bahwa faktor mengapa negara dunia ketiga belum kuat dan terkesan diseret-seret oleh sistem ekonomi kapitalis sendiri karena baik politik internal maupun eksternal dan sistem perekonomiannya yang belum kuat. Dengan kata lain, Neorealis meletakkan permasalahan pada negara dunia ketiga yang belum memiliki power yang cukup kuat.
Grand debate keempat antara positivisme dan post-positivisme. Positivisme berpendapat bahwa bahwa dalam melakukan pene;itian HI maka harus ilmiah/bebas nilai.. Peneliti harus memisahkan rasa kemanusiaannya, tidak memandang baik buruknya apapun hasil yang mereka dapatkan di lapangan. Positivisme sendiri adalah induk dari teori liberal, realis dan struktualisme. Sedangkan post-positivisme menentangnya dengan pendapat bahwa HI tidak bisa bebas nilai. Karena yang di teliti dalam disiplin ilmu ini adalah negara yang mana dijalankan oleh manusia, maka peneliti dalam melakukan proses penelitian harus mengikutkan dirinya dalam menjadi objek dari penelitian. Secara kasar intinya adalah bagaimana cara peneliti bisa memahami manusia jika dia tidak bisa memahami dirinya sendiri terlebih dahulu.
Ibarat rumah, pondasi dan dasar yang kuat diperlukan untuk mendirikan bangunan yang kokoh. Sama halnya seperti memahami ilmu HI. Untuk menjadi sebuah kastil, batu pertama harus diletakkan. Untuk mecapai garis finish, langkah pertama harus diambil. Defenisi, sejarah dan penjelasan singkat mengenai grand debate memang masih sangat kecil dibandingkan materi untuk hari-hari kedepan. Memang tidak mudah, sesekali harus terjatuh, sesekali bangunan setengah jadi itu harus rubuh, sesekali menemui jalan buntu, sesekali batu bata ternyata habis. Namun, selalu ada jalan tikus untuk ditelusuri, selalu ada batako sebagai pengganti. dan ilmu HI memberikan saya first impression yang baik, setidaknya untuk hari ini. (Selasa, 06 September 2016)
Special thanks to kak febe dan kak aldy<3
"Kalo kalian pelajari ini HI dek, kalian akan sadari kalo dunia tidak sedang baik baik saja" -Kak Aldy
Komentar
Posting Komentar