Saya besar secara harfiah, di seluruh dunia.
Saya pernah,(juga) menjadi salah satu yang dibuai oleh dunia. Ayah dan Ibu menduduki posisi penting di salah satu perusahaan menggurita katanya, jadi seharusnya masuk akal sering berpindah-pindah tempat tinggal. Saya, jujur menikmati itu. Negara-negara yang masih menjadi impian sebagian besar remaja seumuran saya, sudah bosan kujajaki. Saya besar di seluruh dunia, sudah kuberi tahu. Tapi untuk dimana saya benar-benar berasal, saya kurang tahu. Ayah blasteran sama seperti saya. Inggris dan Italia, tapi ada keturunan Skotlandia dari nenek yang juga blasteran. Iya, saya tahu keluarga saya sangat bhinneka tunggal ika bukan? hehe. Ibu saya sendiri orang Indonesia asli. Kalau belum tahu Indonesia tapi ternyata pernah ke Bali,berarti kalian mainstream. Haha kidding, jangan tersinggung. Apalagi kalau kalian orang Sulawesi seperti Ibuku, kumohon.. jangan tersinggung:)
Langit bandung yang kelabu sisa hujan tadi pagi. Masih 3 jam lagi pak dosen masuk tapi greentea yang saya pesan sudah habis setengah. Seberang jalan dari cafe yang antah berantah ini, disitulah pikiranku tertuju. Populer dengan sebutan anak hits, gaul, hedon, keren? entahlah saya tidak terlalu hafal lagi. Apapun sebutan yang mendeskripsikan sekumpulan manusia biasa saja namun dianggap spesial karena nama belakang dan sesuatu yang mereka katakan 'mewah' dan 'terbatas' . Lihat, mereka tertawa seakan-akan afrika sudah berhasil mengenyangkan perut seluruh penduduknya. Mereka tersenyum lepas, seolah tidak ada lagi bayi-bayi yang harus meninggal atau menjadi yatim tanpa rumah. Uang tidak akan pernah menjadi momok. Disaat yunani masih berjuang dengan krisis moneternya, ajaib bagi mereka ATM bagai pohon yang berbuah uang. Terlalu mudah untuk dipetik.
Tunggu.
Mereka? Ah, lumayan keliru rupanya. Nyatanya yang baru saja saya deskripsikan adalah seorang Emily Stucturte beberapa tahun yang lalu.
Ya, bagian dari masa lalu saya adalah cermin dari apa yang sedang ada di depan mataku saat ini. Saya tidak sedih, atau senang, atau merengek-rengek meminta tuhan mengembalikan status dan posisiku di masa lalu. Apa yang saya terima saat ini adalah puncak dari rasa syukur saya. Walaupun, memang saya akui. Menerima kenyataan untuk pertama kali adalah yang tersulit.
Tamparan pertama adalah ketika gejolak ekonomi tiba-tiba diluar kendali. Tidak terprediksi, strategi apapun tidak dapat menyelesaikannya. Dampak lansung? tentu saja, perusahaan-perusahaan berbondong-bondong gulung tikar. PHK serentak dilakukan. Tidak memandang apakah perusahaan nasional maupun internasional, semua habis terpuruk. Tidak terkecuali kedua orang tua saya. Mereka akhirnya memutuskan untuk pulang ke Inggris dan memulai lagi untuk menata hidup. Pada saat itu saya tidak terlalu khawatir, posisi orang tua saya yang sangat strategis pasti memudahkan mereka untuk memulai lagi dan uang yang dahulu mereka hasilkan tidak sedikit. Setidaknya, ada jaminan saya masih bisa hidup.
Tamparan selanjutnya adalah saya menyadari bahwa apa yang disekitar saya adalah 'kelas'. Kelas-kelas sosial dalam masyarakat, begitu sosiologi menyebutnya. Dan, apapun akan sangat mudah jika kita ada di kelas yang menguntungkan. Usaha kedua orang tua saya gagal total, investasi yang menghabiskan seluruh tabungan ternyata bodong. Saya hancur, pada saat itu. Miskin, kata yang tidak pernah ada di pikiran saya sebelumnya. Keluarga saya bisa dibilang, yah menjadi seperti itu. Dan kau tahu kawan, di titik itulah saya merasakan Kapitalis benar-benar ada disekitar kita.
Orang tua saya otomatis tidak punya modal, dan dalam kondisi seperti ini setiap harinya keluarga saya semakin miskin saja. Diperas sana sini, kehidupan saya berada di posisi paling bawah rantai makanan. Saya ingin berteriak marah, memaki, apapun asas dari negara itu yang namanya perilaku ekonomi dunia selalu diatur dengan apa yang namanya Kapitalis! Persetan dengan ideologimu, ayah saya semakin kurus hanya memikirkan kemauan sang pemilik modal yang berkuasa.Mereka yang semakin kaya, dan keluargaku yang miskin akan semakin hancur. Lalu, kelas sosial dalam masyarakat adalah hal yang paling nyata yang kulihat disaat itu. Borjuis dan Proletar? saya pernah menjadi keduanya. Anggota kelas tertentu secara alami akan berkumpul dengan anggota kelas sesamanya. Terbukti dengan raibnya secara bersamaan orang-orang yang dahulu kuanggap kawan. Bantuan muncul justru dari sisi yang mempunyai nasib yang sama. Kami bersama-sama bahu-membahu memanjat untuk menjatuhkan kaum yang berkuasa para pemilik modal yang terlihat semakin meninggikan temboknya saja.
Ibu tidak akan pernah akan menyerah atas apapun. Berpuluh-puluh tahun menderita, keluarga saya akhirnya memutuskan untuk pindah ke Indonesia dan menetap di Bandung. Ayah dengan pengalaman bisnisnya mulai meniti karir menjadi konsultan bisnis di salah satu perusahaan kecil di Jakarta, setiap akhir pekan ia pulang melepas penat di Bandung. Sekarang, sudah mendirikan kantor konsultan sendiri di Bandung dan membawahi beberapa karyawan. Ibu berpindah haluan. Ia sibuk membangun di tempat ia benar-benar berasal. Aktif di LSM-LSM yag bergerak di bidang ekonomi, juga proyek-proyek untuk mencerdaskan anak bangsa. Ibu, dengan kata lain sekarang adalah seorang aktivis yang tangguh.
Saya? Melanjutkan apa yang sudah seharusnya saya lanjutkan. Tahun lalu, saya lulus di salah satu perguruan tinggi bergengsi di negeri ini. Kehidupan sudah jauh lebih baik, tapi apa yang sudah diajarkan oleh hidup akan selalu terpatri di pikiran saya. Tentu, saya tidak akan menyimpannya sendiri. Mungkin pemikiran ini bisa jadi sesuatu yang besar nantinya. Entahlah, saya harap seperti itu. dan jikalau benar terjadi, mungkin akan saya mulai dari kata 'stucture'.
Atau bagaimana kalau, struktur?
Komentar
Posting Komentar