Langsung ke konten utama

Emily Stucturte

Saya besar secara harfiah, di seluruh dunia. 

Saya pernah,(juga) menjadi salah satu yang dibuai oleh dunia. Ayah dan Ibu menduduki posisi penting di salah satu perusahaan menggurita katanya, jadi seharusnya masuk akal sering berpindah-pindah tempat tinggal. Saya, jujur menikmati itu. Negara-negara yang masih menjadi impian sebagian besar remaja seumuran saya, sudah bosan kujajaki. Saya besar di seluruh dunia, sudah kuberi tahu. Tapi untuk dimana saya benar-benar berasal, saya kurang tahu. Ayah blasteran sama seperti saya. Inggris dan Italia, tapi ada keturunan Skotlandia dari nenek yang juga blasteran. Iya, saya tahu keluarga saya sangat bhinneka tunggal ika bukan? hehe. Ibu saya sendiri orang Indonesia asli. Kalau belum tahu Indonesia tapi ternyata pernah ke Bali,berarti kalian mainstream. Haha kidding, jangan tersinggung. Apalagi kalau kalian orang Sulawesi seperti Ibuku, kumohon.. jangan tersinggung:)

Langit bandung yang kelabu sisa hujan tadi pagi. Masih 3 jam lagi pak dosen masuk tapi greentea yang saya pesan sudah habis setengah. Seberang jalan dari cafe yang antah berantah ini, disitulah pikiranku tertuju. Populer dengan sebutan anak hits, gaul, hedon, keren? entahlah saya tidak terlalu hafal lagi. Apapun sebutan yang mendeskripsikan sekumpulan manusia biasa saja namun dianggap spesial karena nama belakang dan sesuatu yang mereka katakan 'mewah' dan 'terbatas' . Lihat, mereka tertawa seakan-akan afrika sudah berhasil mengenyangkan perut seluruh penduduknya. Mereka tersenyum lepas, seolah tidak ada lagi bayi-bayi yang harus meninggal atau menjadi yatim tanpa rumah. Uang tidak akan pernah menjadi momok. Disaat yunani masih berjuang dengan krisis moneternya, ajaib bagi mereka ATM bagai pohon yang berbuah uang. Terlalu mudah untuk dipetik. 

Tunggu. 

Mereka? Ah, lumayan keliru rupanya. Nyatanya yang baru saja saya deskripsikan adalah seorang Emily Stucturte beberapa tahun yang lalu.

Ya, bagian dari masa lalu saya adalah cermin dari apa yang sedang ada di depan mataku saat ini. Saya tidak sedih, atau senang, atau merengek-rengek meminta tuhan mengembalikan status dan posisiku di masa lalu. Apa yang saya terima saat ini adalah puncak dari rasa syukur saya. Walaupun, memang saya akui. Menerima kenyataan untuk pertama kali adalah yang tersulit. 

Tamparan pertama adalah ketika gejolak ekonomi tiba-tiba diluar kendali. Tidak terprediksi, strategi apapun tidak dapat menyelesaikannya. Dampak lansung? tentu saja, perusahaan-perusahaan berbondong-bondong gulung tikar. PHK serentak dilakukan. Tidak memandang apakah perusahaan nasional maupun internasional, semua habis terpuruk. Tidak terkecuali kedua orang tua saya. Mereka akhirnya memutuskan untuk pulang ke Inggris dan memulai lagi untuk menata hidup. Pada saat itu saya tidak terlalu khawatir, posisi orang tua saya yang sangat strategis pasti memudahkan mereka untuk memulai lagi dan uang yang dahulu mereka hasilkan tidak sedikit. Setidaknya, ada jaminan saya masih bisa hidup.

Tamparan selanjutnya adalah saya menyadari bahwa apa yang disekitar saya adalah 'kelas'. Kelas-kelas sosial dalam masyarakat, begitu sosiologi menyebutnya. Dan, apapun akan sangat mudah jika kita ada di kelas yang menguntungkan. Usaha kedua orang tua saya gagal total, investasi yang menghabiskan seluruh tabungan ternyata bodong. Saya hancur, pada saat itu. Miskin, kata yang tidak pernah ada di pikiran saya sebelumnya. Keluarga saya bisa dibilang, yah menjadi seperti itu. Dan kau tahu kawan, di titik itulah saya merasakan Kapitalis benar-benar ada disekitar kita.

Orang tua saya otomatis tidak punya modal, dan dalam kondisi seperti ini setiap harinya keluarga saya semakin miskin saja. Diperas sana sini, kehidupan saya berada di posisi paling bawah rantai makanan. Saya ingin berteriak marah, memaki, apapun asas dari negara itu yang namanya perilaku ekonomi dunia selalu diatur dengan apa yang namanya Kapitalis! Persetan dengan ideologimu, ayah saya semakin kurus hanya memikirkan kemauan sang pemilik modal yang berkuasa.Mereka yang semakin kaya, dan keluargaku  yang miskin akan semakin hancur. Lalu, kelas sosial dalam masyarakat adalah hal yang paling nyata yang kulihat disaat itu. Borjuis dan Proletar? saya pernah menjadi keduanya. Anggota kelas tertentu secara alami akan berkumpul dengan anggota kelas sesamanya. Terbukti dengan raibnya secara bersamaan orang-orang yang dahulu kuanggap kawan. Bantuan muncul justru dari sisi yang mempunyai nasib yang sama. Kami bersama-sama bahu-membahu memanjat untuk menjatuhkan kaum yang berkuasa para pemilik modal yang terlihat semakin meninggikan temboknya saja. 

Ibu tidak akan pernah akan menyerah atas apapun. Berpuluh-puluh tahun menderita, keluarga saya akhirnya memutuskan untuk pindah ke Indonesia dan menetap di Bandung. Ayah dengan pengalaman bisnisnya mulai meniti karir menjadi konsultan bisnis di salah satu perusahaan kecil di Jakarta, setiap akhir pekan ia pulang melepas penat di Bandung. Sekarang, sudah mendirikan kantor konsultan sendiri di Bandung dan membawahi beberapa karyawan. Ibu berpindah haluan. Ia sibuk membangun di tempat ia benar-benar berasal. Aktif di LSM-LSM yag bergerak di bidang ekonomi, juga proyek-proyek untuk mencerdaskan anak bangsa. Ibu, dengan kata lain sekarang adalah seorang aktivis yang tangguh. 

Saya? Melanjutkan apa yang sudah seharusnya saya lanjutkan. Tahun lalu, saya lulus di salah satu perguruan tinggi bergengsi di negeri ini. Kehidupan sudah jauh lebih baik, tapi apa yang sudah diajarkan oleh hidup akan selalu terpatri di pikiran saya. Tentu, saya tidak akan menyimpannya sendiri. Mungkin pemikiran ini bisa jadi sesuatu yang besar nantinya. Entahlah, saya harap seperti itu. dan jikalau benar terjadi, mungkin akan saya mulai dari kata 'stucture'.

Atau bagaimana kalau, struktur?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Telepon dari Ayah

Pendeknya: akhir-akhir ini Ayah suka sekali meneleponku. Ayah menelepon ke rumah adalah hal yang lumrah, tentu saja. Ia menelepon Ibu, lalu Nunu yang sedang di Malang dan kadang-kadang juga Dela. Aku? Tidak pernah. Aku sebenarnya menolak memberikan Ayah nomor teleponku. Bukan apa-apa, aku juga tidak sedang sibuk apapun, dan untuk Ayah, aku memang selalu punya waktu. Hanya, apa ya? I hate the feeling. Setelah mendengar suaranya, aku tidak suka perasaan yang ditinggalkan. Khawatir, sedih,.. Kangen. Ah, yang paling penting: aku khawatir aku akan menangis. Yaa yaa ya, bilang saja aku orang paling jaim seluruh dunia. Kalau kata anak indie:  semesta sedang menertawakan bagaimana aku berlakon dengan gengsiku.   "..but? Its okay to cry, babe."  another blah blah blah. Tidak, sayang, tidak. Aku, iya memang jaim. tapi, bagaimana ya? Lebih daripada itu, aku tidak boleh menambah beban ayah dengan mendengarku menangis. Tidak boleh. Tidak bisa. Ayahku, se-overthinking itu....

Gemas

Padahal, Aku ingin terlihat menggemaskan. Pakai baju merah atau yang putih? Haruskah aku memakai bando yang ini?  Syal ini terlihat oke? Tidak? Mesti kuganti? Apa rambutku baik-baik saja? Ah, sial. Jerawatku tumbuh lagi. Bagaimana ini? Cuci muka dengan air beras? Tidak usah? Baiklah. Hari ini aku merasa sangat pendek.  Hei, kemarin-kemarin aku merasa tinggi kau tahu? Jangan mengejekku!  Diet mungkin membuatku kurus dan lebih pendek. Ah tidak apa-apa. Pendek itu menggemaskan. Oh, tunggu. Apa ini? Sepatuku belum kering?! Tidak... tidak.. aku harus memakai sepatu yang itu. Tidak boleh yang lain. Tapi, bu...  Sepatunya cocok dengan ba-- Iya, baiklah. Aku akan memakainya. Tapi tetap tidak ikhlas. Persetan dengan langit mendung!  Ugh. Sudah jam berapa ini? Aku harus segera bersiap-siap.  Adinda, cepat mandinya. Aku harus terlihat lucu hari ini.  Demi Tuhan, Aku hanya ingin 'sedikit' lebih menggemaskan untuk ha...

Yah

Ayah yang paling ganteng. Karena memang ganteng. Gagah. Iyalah. Keturunan arab, marga Alaydrus. tapi tidak sering dipake karena namanya sudah panjang. Cukup jadi nama facebook saja, ya yah? Ini bukan apa-apa. Bukan juga karena ulang tahunnya ayah yang memang sangat ambigu dan penuh misteri. Putrimu ini hanya mau bersikap manis saja. Akhir-akhir ini, i think about ayah alot. Ibu juga. Bukan karena anakmu ini sudah dewasa dan bijaksana. Hanya saja.., i dont know. Kangen. The more i drown into college life, semakin sering i think about ayah dan ibu juga rumah. Tapi untuk kali ini, fokusnya ayah saja ya bu. Soalnya, surat cinta anak-anakmu untuk ibu sudah banyak sekali dan tidak pernah sekalipun menulis buat ayah. Hehehe. Pak Aldrin. Terimah kasih karena sudah terlalu kuat untuk menggendong little Ainil yang meskipun lagi lucu-lucunya, tapi juga sangat gembul dan subur. Iya, ayah memang sering mengeluh terselubung kalau lagi flashback. "Ini anak, disuruh cuci piring lamanya m...

[RESUME] ILMU PENGANTAR HI

Hi. bukan. bukan hai. HI atau hubungan internasional ternyata tidak se-sederhana singkatannya. siapa yang menyangka ternyata makna dari HI dan hi ternyata sangat berbeda? apalagi membedakan antara HI dengan huruf kapital, hi dengan huruf anak bawang (baca:kecil) dan hi seperti hai whassup? Segala hal dengan imbuhan internasional memang selalu rumit dan dinamis, sekaligus menyenangkan. Saya tahu, menyenangkan yang dimaksud disini adalah magnet tersendiri. Sesuatu yang menarik dan semakin menarik, mengajak untuk terus berenang dan menyelami alurnya. Berfikir kritis dana bergerak secepat globalisasi, disiplin ilmu ini unik akan inovasi. Defnisi HI maupun hi secara umum sebenarnya bisa sangat disederhanakan. Ada banyak pendapat mengenai hubungan internasional dari para ahli, namun sebenarnya semua memiliki 3 kesamaan yang sama. Yaitu, aktor, interaksi dan lintas negeri. Hubungan Internasional secara defenisi adalah apapun yang mengenai 3 pokok itu.  HI atau dapat dikataka...

Kira

Aku kira. Bukan, namaku bukan Kira tentu saja. Kira, kau tahu kan? Kata yang menggambarkan pertentangan antara " what do you expect " dan " what actually happening" . Seperti apa yang kau anggap terjadi, ternyata tidak. Ternyata bukan, Ternyata hanya dikepalamu saja. Ternyata bukan itu yang menjadi realita. Harapan yang terlalu dekat dengan kenyataan, namun tidak tergapai. Tidak sampai. Tidak ke-sampai-an. Akhirnya kamu cuma bisa tersenyum, dan berkata lirih: Aku kira itu...  Aku kira, aku bukan lagi remaja perempuan kemarin. Aku kira, aku telah menjadi seorang perempuan yang Dewasa karena patah. Kuat karena jatuh. Aku kira, mengalami pengalaman jauh membuatku menjadi lebih tangguh. Hari-hari kemarin yang berat. Orang-orang yang pergi dengan bekas. Sakit, setiap denyut, setiap goresan, i feel it all.  Aku sudah merasakan semuanya, dan yang aku tahu,aku sudah siap dengan petualangan baru. Percaya diri sekali, merasa sudah berproses dan menikmati proses. Be...

[RESUME] Aktor-Aktor HI

Hal yang anehnya saya temukan 'unik' pada disiplin Ilmu Hubungan Internasional salah satunya adalah penggunaan kata aktor. Tidak hanya dalam satu buku, tapi pada saat belajar di SMA mengenai hubungan internasional, kata yang dipakai adalah aktor. Aktor.  Ak-tor. Aktor yang kita tahu secara umum sangat dekat hubungannya dengan dunia film dan hal-hal yang berbau digital, ternyata populer juga di rumpun pengetahuan sosial dan politik. Jika ingin ditelaah sekali lagi, kata aktor bisa saja diganti dengan kata-kata ilmiah umum yang biasa ditemukan pada disiplin ilmu lain seperti kata 'pelaku' atau 'subjek'. Mengapa harus dinamakan dengan kata serapan bahasa asing actor ? Memang tidak ada salahnya, kata aktor sah-sah saja digunakan. Pribadi, saya menganggap persoalan remeh ini unik dan menggelitik. Hipotesa dan pertanyaan memang tidak terpisah. Secara umum aktor-aktor HI dibagi menjadi dua, yaitu state dan non-state . State yang dalam bahasa indon...