Aku masih ingat film yang kunonton bersama sepupuku bertahun-tahun yang lalu. Judulnya The Eye. film yang cukup....monumental? Entahlah,aku selalu mengingatnya sebagai film horror. Padahal kalau mau dijelaskan lagi film ini jauh berbeda dari The Conjuring yang tersohor ataupun Insidous beserta turunan chapternya. Yah, filmnya mungkin tidak terlalu seram, meskipun dekat dengan hal-hal berbau mistis dan penyihir. Singkatnya, filmnya bercerita tentang si pemeran utama cewenya (Jessica Alba kalo gasalah?) yang buta terus mendapatkan donor mata 'spesial' dari perempuan yang dianggap penyihir. Mata donornya itu ternyata spesial karena bisa melihat kematian dari seseorang. Jangan tanya aku kelanjutannya aku tidak ingat lagi. Aku terakhir menontonnya pada usia aku menganggap film Harry Potter itu sama seramnya dengan Terowongan Casablanca and the gank. Betapa lugunya.
Tapi, yang akan aku ceritakan bukan mengenai film itu di dunia nyata. dan sungguh, aku benar-benar bahagia dengan mata yang Tuhan telah kasih. Aku sering dibilang orang cina (HAHAHA LOL) walaupun nyatanya aku memang pribumi asli. Cerita ini lebih seperti, bagaimana mata menjadi satu dari sekian banyak rahasia langit yang masih belum aku pahami. Mata memang menakjubkan dan misterius pada saat yang sama. Terkadang, ia bisa mendekapmu sekaligus membuatmu merasa kehilangan. Sepasang mata yang menatap ke arahmu adalah sulap terbaik yang pernah ada. Entah itu kadang berarti apa, kau tidak akan pernah tahu. Kau hanya bisa menerka-nerka. Apakah kau akan dibuai harapan atau ditenggelamkan prasangka.
Kawan, kau tidak akan pernah bisa mengerti arti dari sepasang mata.
Berawal dari sebuah pelarian. Pelarian yang sangat manis. Hah! terlalu puitis. Pokoknya, awalnya hanya sebuah perjalanan wisata alam anak sekolahan biasa saja. Kami pergi pada sebuah daerah yang memang sudah menjadi agenda wajib sekolahku yang tercinta ini untuk mengunjunginya. Setiap tahun, dengan bus yang sama, villa yang sama dan tempat yang sama. Yang berbeda hanyalah murid yang ikut, anak-anak tahun ajaran baru yang norak dan narsis. Aku bisa saja seperti mereka kalau kakakku bukan alumni sekolah ini dan tidak bermulut besar. Semua kejutan dan susunan acara persis dan tepat seperti yang kakak ceritakan, aku tidak terkejut sama sekali. Dia bisa berguna menjadi agen untuk negara ini. Atau mungkin sebaliknya.
Kau tidak akan pernah bisa bayangkan dampak yang diakibatkan mulut besar saudaramu dalam sebuah perjalanan study tour. Terprediksikan, semuanya seperti berjalan sesuai dengan yang seharusnya. Hal-hal yang bisa menjadi kejutan pun tidak membuatmu merasa apa-apa. Lalu, akhirnya aku sadar. Mengapa hidup seperti tidak letih-letihnya mengejutkanku. Rahasia langit memang luar biasa. Betapa tidak lucunya mengetahui jalan cerita hidupmu sendiri. Aku baru saja berjanji dalam hati untuk tidak lagi mengeluh ketika sepasang mata berhasil mengacaukannya.
Bisa mati bodoh aku jika terus memikirkannya. Si pemilik sepasang mata ini sebenarnya bukan orang asing, bukan pula orang ajaib. Ia salah satu dari teman seangkatanku yang terpisah 3 kelas dari kelasku. Dia tidak terlalu sering kulihat, namun cukup terkenal. Tingkahnya jenaka, dibarengi dengan postur badannya yang lumayan. Wajahnya bisa dibilang diatas rata-rata walaupun tidak mirip Christian Sugiono sama sekali. Teman-temanku sering membicarakannya. Betapa dia cerdas. Betapa dia mengagumkan. Betapa dia... ah aku tidak ingat lagi. Aku tidak terlalu menaruh perhatian,karena kupikir dia sama saja dengan manusia lain sejenis dia.
Aku benar soal dia sama saja dengan manusia ganteng lain sejenis dia, tapi aku lupa soal matanya. Apa aku lupa juga menceritakan bagaimana aku dibuat gila olehnya? Sepertinya iya, maaf kawan. Aku memang dibuat bodoh oleh makhluk ini.
Pada saat itu adalah jadwalku memasak bersama Andrea, Bintang dan 3 orang lainnya. Aku bertugas memasak seadanya karena aku benci berada di dapur. Ketika aku sangat berkonsentrasi terhadap air rebusan mie andalan, tidak sengaja sepasang mata itu muncul di jendela samping kompor tepat disebelahku. Lima detik kami saling menatap penuh makna, lalu kami masing-masing mengalihkan pandangan. Aku masih menganggap hal itu sebagai kebetulan.
Tiga jam sesudah peristiwa pertama ialah waktu bersantai. Ruang keluarga villa yang sekolahku sewa memang agak luas, aku bersyukur anggaran untuk ini lumayan besar. Pada saat itu aku dengan penuh konsentrasi duduk disamping Andrea mendengar Koko bercerita gosip terhangatnya. Benar, sangat penuh konsentrasi sampai pada aku menangkap dia sedang menatapku lagi untuk kedua kalinya. Bedanya, aku tidak lansung berbalik, tapi konsentrasiku benar-benar sudah dipecah dua. Suara-suara kecil dalam hati sudah berteriak meminta penjelasan.
"Woi kenapa dia liat-liatin elu!!"
"LIATIN BALIK LAH MASA ELU TAKUT"
"yakali kamu ga penasaran dia liatin sama"
"nengok ga?! nengok ga?!"
Sial, jadi absurd.
Dan akhirnya, aku nengok juga. Dimakan habis penasaran mengapa dia terus-terusan menatap ke arah sini. Namun secepat itu pula ia mengalihkan pandangannya lagi. Seketika Dia bertingkah sama absurdnya dengan aku. Pura-pura sibuk sambil meninju-ninju temannya. Aku? penasaran, sekaligus senang. Tidak tahu mengapa senang saja. Ternyata perjalanan ini tidak buruk-buruk juga. Aku optimis, 3 hari kedepan semoga lebih asyik lagi.
Ada sesuatu dalam matanya yang aku tidak mengerti. Sepertinya dia memang mempunyai bakat alami menjadi seorang pesulap. Kalau kata Tere Liye, orang yang jatuh cinta akan menatap seribu kali lebih indah.. kurasa dia seratus ribu kali lebih menakjubkan. Setiap hari aku bangun dengan rasa tidak sabar memeluk embun pagi. Aku tidak sabar melihat dia. Aku tidak sabar menemui orang itu. Aku ingin cepat-cepat bearda di sekitar dia. Hanya butuh 2 kali tatapan, untuk membuatku jatuh hati. Aku tahu. Benar-benar lemah.
Pucuk dicinta, ulam pun tiba mereka bilang. Benar-benar sempurna mendeskripsikan kondisi seorang aku pada saat itu. Beberapa kali, sampai tidak terhitung kami bertemu pandangan. Rasanya luar biasa,benar-benar diluar batas kewajaran. Hal ini cuma mengenai bertemu pandang dan aku yang sepenuhnya jatuh pada pesonanya, aku sempurna jatuh lewat jalan yang paling tidak mungkin. Soal ini aku tidak beritahu siapa-siapa, bahkan Andrea pun tidak. Aku benar-benar menikmati kejutan manis yang hidup telah hadiahkan kepadaku. Begitu egoisnya, sampai kaki tak lagi berpijak. Sibuk merangkai semua kejadian untuk membenarkan sabda hati. Sibuk menghubungkan banyak hal untuk menimbun mimpi. Lalu lupa, apa yang benar-benar nyata dan mana yang aku buat nyata.
Sarapan pagi sebelum kami kembali ke kota, bubur kacang ijo. Makannya berpasangan, sempat berharap bisa untuk sekali saja bersama orang itu. Untunglah, dia makan tidak jauh dariku. Jadi bisa SSB HAHAHA. Pasti sangat menyenangkan. Sibuk dengan pikiran dan teori konyol, Andrea yang disampingku tiba-tiba menghadap ke arahku. Air wajahnya khawatir, tapi juga sedikit bahagia. Aku bertanya ada apa, dia tidak menjawab. Aku mendesaknya, dia menghindar. Berkali-kali aku memaksa, akhirnya dia angkat bicara. Aku rasa aku menyesali keputusanku membuatnya berbicara.
"Bukannya mau gr atau gimana. tapi tadi si Radian natap aku, lama banget. pas aku liatin balik dia lansung pura-pura sibuk gitu. gimana ini? Udah dari lama sih dia liat-liatin aku, sori aku baru cerita sekarang. Ini Radian yang itu loh, masa sih dia.."
Ternyata Andrea. Bukan. Aku.
***
Mata adalah sekian dari banyak rahasia langit yang tidak ingin aku pahami. Orang-orang tidak sedang berpuisi tentang mata yang tidak akan pernah bisa bohong. Mata memang tidak akan pernah bisa kau kibul. Tapi apa yang paling menyiksa ialah seringkali menjadi tempat bergantungnya harapan. Mata bisa menceritakan cinta, tapi ia tidak bisa berbicara. Tidak bisa menunjuk kepada siapa ia merindu, kepada siapa pemiliknya mendamba. Apa yang paling menyebalkan sekali lagi adalah ketika kamu membiarkan dirimu hanyut oleh sihir mata yang dibuat untuk menarik orang lain. Sialnya, kau tidak bisa menyalahkan siapa-siapa.
Ditulis tidak untuk apapun.
Didedikasikan tidak untuk siapapun.
Komentar
Posting Komentar