Aku selalu suka kau yang selalu duduk di bangku terakhir, sudut, barisan paling belakang. Atau, kalau kau sedang sial mungkin di sudut, barisan paling depan. Dan aku bisa mendengarnya kau tahu? umpatanmu dalam hati,mengutuk setengah mati dirimu yang sarapan terlalu banyak atau dirimu yang lupa berdoa agar tidak hujan hari ini. Kenapa tidak sekalian saja menyesali kenapa kau bernafas? Salahkan semesta untuk sekali saja! Kau adalah potongan galaksi paling bodoh yang pernah aku temui. Sekaligus menjadi kebencianku yang paling pertama. Berhenti menyalahkan entitas semenajubkan dirimu.
Aku sadar, hal-hal yang indah tidak pernah meminta perhatian. Sesuatu yang indah dan baik (seperti dirimu, tentunya) tidak butuh pertunjukan untuk diakui. Kalau kata orang bijak, keindahan itu langka karena kita yang terlalu sibuk 'membuatnya indah'. Sampai-sampai lupa mengambil jeda sejenak, menyesap wangi robusta dan lalu berbisik 'terimah kasih atas keindahannya'.
Tapi aku?
Tidak gadisku. Melihat kau duduk di sudut paling tidak tersentuh dalam ramainya kudapan membuat segalanya menjadi mungkin. Bahwa benar keindahan ada di tempat-tempat yang tidak terduga. Dan, aku sukses dibuat jatuh oleh saat itu. Dipermainkan logika itu tidak seru. Apa yang membuatmu indah, sampai saat ini belum kutemukan jawabannya. Semakin melihatmu, aku semakin ditimpa. Kebencianku selanjutnya. Keindahanmu yang tidak akan pernah bisa terjelaskan.
Panggil aku Qais, Don Quixote, apapun penghuni narasi kegilaan. Aku menjadi pemain baru dengan cerita setengah tidur. Tidak apa, asal bisa mengembalikan satu jam bersamamu hari ini? Aku suka. Aku bersedia. Tidak ada penyesalan. Panggil aku tidak tahu malu, aku dengan senang hati memeluk seruan itu. Mengelilingi bumi hanya dengan 1 jam mendengarmu bercerita, lalu terbang menuju bulan dengan melihat 10 detik matamu menyipit tertawa. Tuhan, Aku adalah astronot paling berbahagia untuk tersesat.
Oh. ralat.
Astronot Indonesia paling bahagia untuk tersesat.
Apakah Indonesia sudah punya astronot atau tidak, jujur aku tidak peduli. Tapi mengingat bagaimana asa dan pikiranmu seperti tempat semayam wiji thukul dan kawannya, tidak masalah. Aku bisa menjadi Hatta dalam setiap nadi Soekarno-mu.
Kau cinta sekali dengan negara ini galaksiku, aku sedikit cemburu karena itu. Hal ini yang membuatku yakin untuk memilih kebencianku selanutnya. Semoga jadi yang terakhir, karena aku sudah lelah berpura-pura menjadi Hypocrates. Kebencianku selanjutnya, aku jatuh dan hanyut dalam apa yang disebut manusia akan cinta.
Keberuntunganku yang pertama: Kamu.
-Raya-
(To be Continued)
Komentar
Posting Komentar